Di Indramayu terdapat satu desa yang bernama Karang Turi. Di desa tersebut ada sebuah keluarga yang di kepalai oleh Sarkawi,dan beranggotakan istri Sarkawi,dan dua orang anaknya, Saedah dan Saeni.
Suatu saat Sarkawi pergi untuk naik haji. Tiba-tiba di tengah perjalanan Sarkawi tergoda dengan penari ronggeng yang bernama Maimunah. Sarkawi dan Maimunah akhirnya menikah tanpa sepengetahuan keluarganya di rumah
Sudah tujuh bulan lamanya Sarkawi tidak datang jua. Istri Sarkawi sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa hari kemudian Sarkawi memutuskan untuk pulang ke kampung halama serta membawa istri mudanya. Setiba di rumah Sarkawi terkejut karena mendengar kabar dari anaknya bahwa ibu sudah meninggal.
Susana semakin membaik. Sarkawi memperkenalkan Maimunah kepada Saedah dan Saeni bahwa Maimunah telah menjadi ibu tirinya. Tidak lama dari itu Sarkawipun pergi untuk mencari nafkah
Maimunah pergi ke pasar, sebelum pergi ia berpesan kepada Saedah dan Saeni jika ia pergi, beras dan uang yang ada di meja jangan di pakai. Tapi sebaliknya karena Saeni lapar, akhirnya beras dimasak oleh Saedah. Setelah Maimunah tahu akhirnya Maimunah marah dan mencacimaki Saedah dan Saeni. Karena tidak kuat atas perilaku ibu tirinya, Saedah dan Saeni memutuskan untuk pergi dari rumah. Maimunah sadar akan perbuatanya, ia meminta maaf dan meminta Saedah dan Saeni jangan pergi dari rumah.
Sebagai wujud permohonan maaf Maimunah mengajak anak tirinya itu jalan-jalan ke kota Batavia (sekarang Jakarta). Rupanya Maimunah bukanya ingin ngajak jalan-jalan tetapi ingin membuang Saedah dan Saeni. anaktirinya itu di tengah hutan.
Hari sudah malam hanya ada Saedah, Saeni dan binatang malam yang berada di tengah hutan.Hingga ada seorang kakek tua mendekati Saeni lalu ia memberi petunjuk kepada Saeni, bahwa Saeni akan di jadikan penari ronggeng tetapi mereka mengadakan perjanjian.
Sesudahnya Saeni menjadi penari ronggeng dan Saedah jadi tukang kendang. Hidup mereka jauh lebih baik bahkan mereka berniatan untuk membayar utang kepada ibu tirinya. Seiring waktu berlalu si kakek tuapun menagih janji, dan tak lama kemudian Saeni berubah menjadi buaya putih.
Melihat adiknya berubah wujud menjadi buaya putih Saedah langsung memberi kabar kepada orang tuanya di rumah, tanpa berpikir panjang saedah dan orang tuanya menuju ke sungai Sewo. Tak lama kemudian Sarkawi terjun ke sungai. Sarkawipun berubah wujud menjadi bale kambang (balai yang mengambang). begitu pula istri mudanya, Maimunah menjadi pring ori(bambu). Karna melihat keluarganya sudah tidak ada semua, badan Saedah terasa lemas, sadah tertidur di jalur rel kereta api yang bersebelahan dengan sungai Sewo, akhirnya Saedah terlindas kereta api dan berubah wujud menjadi bunga cempaka putih.
BUAYA PUTIH
Melamun di tengah malam gerimis tidak berhenti berhenti.
Sarkawi : bener kalau jadi orang kaya itu senang,padi banyak sawah lega tapi
ada Pribahasa,ada senang kurang senang.senangnya harta benda
banyak Kurang senangnya punya cita-cita tapi akan tercapai tidak?
Sinden : rasa senang rasa bahagia.rasa bahagia jadi pikiran
Sarkawi : aduh...istriku mana yah..?berangkat ke pasar belum datang-datang
Bu..bu…!
Ibu : ada apa pa sarkawi?
Sarkawi : cepat ke sini, ada pribahasa kalau orang jadi istri itu belahan jiwa
Ibu : aduh..kurang apa saya ke kamu..?
Sarkawi : ayo pada ke sini saedah, saeni.
Ibu : bapa nanya saedah,saeni? Kan..masaih di sekolah belum pada datang.
Sarkawi : begini bu..saya itu kan orang kaya di desa karang turi indramayu
Saya punya kemauan.
Ibu : oh..bapa diam-diam punya tujuan.tujuan apa? Saya sebai istri setuju saja . Apa tujuan suami.asal tujuanya benar.
Sarkawi : tujuanya yaitu ingin naik tanah suci.
Ibu : oh.., berarti tujuanya benar,kalau begitu saya setuju sekali.
Sarkawi : jadi.. ibu setuju….
Ibu : kalau bapa ingin naik haji berarti bapa ingin manuntun jalan yang benar. Itu Bakal bisa menyelamatkan diri saya
Sarkawi : tapi gini bu.. Ibu tuh kalo bepergian naik mobil atau kapal laut suka
gampang mabok
Ibu : ih…iya, pa sarkawi
Sarkawi : jadi begini…sesudahnya ibu merukunkan syarat nikah untuk naik haji. Ya sudah bu, barangkali memang Ibu diijinkan berangkat ke tanah suci…kalau inginnya seh berangkat bersana – sama, tapi berhubung Ibu punya penyakit gampang masuk angin, bapak beramgkat sendiri saja.
Ya udah bu, jadi begini perbekalan sudah disipakan bu?
Ibu : oh..udah! nanti dulu pa, si saedah dan saini lagi kemana ya?
Sarkawi : oh, iya nungggu saedah dan saini ?
Ibu : iya pa, kalau bapa berangkat sedang meraka tidak tau bapak
berangkat, kan kasihan
Sarkawi : itu meraka …( menunjuk kea rah datangnya saedah dan saini )
Saedah : bu…ibu….
Ibu : eh, nak !
Kebetulan sini mendekat !Ibu ingin bicara
Saedah : aduh…ibu mau ngomong apa, saedah akan mendengarkan
Ibu : begini nak… bapak kamu mau pergi!
Saedah : kemana bu ?
Ibu : mau naik haji…jadi kamu dan Ibu kita sama – sama dirumah berdoa
untuk bapa ya…
Saedah : iya bu…
Ibu : kalau bapa kamu tidak ada, jangan mau menang sendiri aja..
Sarkawi : nak saedah dengarkan omongan ibu kamu.
Saedah : iya pa..
Sarkawi : aduh, nak saedah anaknya bapa..sini kumpul sama adik kamu, saini!
Saini : iya saya…
Sarkawi : bapa minta doa restu sama kamu,anak bapa yang paling bapa sayang. Bapa
Tuh mau berangkat ke tanah suci
Saini : bapa dan….
Sarkawi : berangkat saini
Saini : berarti disini saini ditinggal ya pa…
Sarkawi : tidak apa-apa..dirumah kan ada kakak dan ibu kamu
Saini : saini seh pesen sama bapa, ati – ati di perjalanan
Sarkawi : ya udah… sekarang bapa mau berangkat. Hati – hati dirumah dan pada sabar ya..
Ibu : ya udah… sekarang sih bapa juga mau berangkat. Masalah anak –
anak jangan khawatir, biar masalah saedah dan saini saya yang
urus.Bapa ati – ati jangan sampai punya pikiran yang tidak – tidak.
Sarkawi : ya udah bu…bapa berangkat.
Ibu : silahkan pa…
Sarkawi : ayo nak…daaaah
Saini : da..dah…bapa
Saedah : bu, liat bapa kasihan…
Ibu : udah nak…jangan disesali. Jangan terlalu difikirkan yang penting
kamu berdoa dengan ibu supaya pikirnnya bapa bebas, jangan sampai
ada gangguan di perjalanan
( nyanyi )
Saedah : ayo de kita istirahat
Saini : ayo kak
Sarkawi : ehm..ehm
Benar kata orang tua kendaraan berani lama untuk menunggu penumpang.
Selepas pergi dari rumah difikiran saya, tdak tega meninggalkan keluarga, tapi apa daya, barangkali memang sudah jad nasib saya. Duh, benar ya sudah sampai Jakarta ramai sekali.Mau Tanya sama siapa, di Jakarta tidak ada sanak saudara. Sesudahnya sampai di Jakarta bingung sekali mencari jalan pesisir tidak ketemu – ketemu.. mau Tanya kepada siapa di Jakarta saya tidak mengerti bahasanya.Nah….siapa itu perempuan? Selendangnya bagus, pakaiannya berwarna merah dan enak dilihat…………
Aduh..kalau selalu memikirkan perempuan sepertinya cita – cita saya dari dulu naik haji gagal.tapi kalau naik haji tidak akan mendapatkan perempuan itu.Tapi laki – laki tidak kurang bijaksana, dasar saya laki-laki ada pribahasanya tidak akan kurang bijaksana, tapi keluarga dan anak saya tidak akan tau kalau saya berniat mencari perempuan lainnya.Mba….mba…kemari mba….aih si mba…kalo mba sebenarnya mau kemana?
Maimunah : saudara bicara dengan saya ?
Sarkawi : iya
maimunah : aih…dikira tuh bukan Tanya ke saya mas…ya saya diam saja
barangkali bukan ke saya.
Sarkawi : ya…kata saya begini mba…ke barat kelihatan matahari sudah tenggelam dan melihar ke timur ada suara orang hiburan
Maimunah : mas tidak tau ya kalau disini ada hiburan ?
Sarkawi : tidak tau ….
maimunah : disini ada hiburan ronggeng mas, ya saya ini penari ronggengnya….ngomong – ngomong mas mau kemana tujuannya? Kan saya sendirian dengan mas.
Sarkawi : sebenarnya seh mba saya mau pergi mba, namun saya berangkat tidak untuk dagang dan tidak untuk nelayan.
maimunah : Berangkat kemana mas?
Sarkawi : berangkat ke tanah suci
maimunah : ooh… ke tanah suci
Sarkawi : iya
maimunah : ya udah, daripada mas pusing lebih baik disini nonton ronggeng sja dulu dengan saya.
Sarkawi : tapi mba mau kalau saya dengan mba?
maimunah : aduh…ya mau sekali
Sarkawi : benar…jangan becanda
maimunah : benar mas
Sarkawi : jadi kebetulan mba….kenal dengan mba yang cantik
maimunah : ya iya…
Sarkawi : Belum Tanya namanya dan mba siapa namanya dan darimana mba asalnya
maimunah : ooh…mas Tanya saya, nama saya maemunah…Bagus kan namanya, orangnya juga kan cantik mas…mas namanya siapa?
Sarkawi : Saya namanya sarkawi dari Indramayu desa karangturi, jelas ?
maimunah : jelas sekali
Sarkawi : jadi begini maemunah, sekarang kita sudah kenal
maimunah : ngomong – ngomong mas punya keluarga tidak?
Sarkawi : ya….keluarga seh sebenarnya begini, bisanya saya pergi sendiri tuh karena tidak punya keluarga
maimunah : jangan bohong ….bohong ah, gombal
Sarkawi : kalau saya punya keluarga ya tentunya kan terbebani
maimunah : Soalnya laki –laki zaman sekarang pura-pura tidak punya keluarga padahal istrinya banyak
Sarkawi : ya…itukan orang lain, kalau saya seh jangan disamakan dengan orang lain. Kata orang zaman sekarang dijuluki arjuna.
maimunah : Duh…gombal,rayuannya maut.saya khawatir…khawatir laki-laki zaman sekarang pintar dengan rayuannya..saya seh khawatir mas sarkawi, sebab misalkan bunga jika sedang berkembang disayang dan sudah layu dibuang
Sarkawi : Maemunah harus percaya dengan sarkawi tidak akan ingkar janji, sebab badan saya jangan disamakan dengan laki- laki lain, bisa pegang janji saya. sejak kenal dengan maemunah jadi laki-laki yang sangat beruntung.
maimunah : Jadi benar mas sayang, suka dengan saya?
Sarkawi : bener
maimunah : kalo emang mas kamu begitu, saya akan menyanyikan sebuah lagu, sebab saya sudah lelah jadi penari ronggeng ketuk “ tilu” ingin sadar kalau mas memang bener-bener yakin sama saya, ayo kita berumah tangga saja.
Sarkawi : kalau emang kamu mau, ayo kita main ke rumah, mungkin maemunah punya rumah dan punya orang tua sekalian sarkawi di kenalkan dengan calon mertua, ayo kita dalami sifat orang tua.Ayo kita pulang….
( nyanyian )
Saini : kak saedah…
Saedah : ada apa de…
Saini : ka saedah lagi apa seh?
Saedah : sedih lihat ibu
Saini : ka saedah jangan nangis aja sih kang?jangan ditangisi nanti saini sedih
Saedah : melihat ibu sedih, ibu sudah sakit mau Tanya sama dukun, tapi dukun mana malam sudah larut sedangkan hari ini hujan, makanya de saini harus prihatin
Saini : ka saedah, bapak ko ga pulang-pulang ya ka…
Saedah : iya, bapa sudah tujuh bulan tidak pulang-pulang
Saini : saini juga tidak tega
Saedah : coba Tanya ke Ibu
Saini : duh, ka saedah kalau emang begitu berarti bapa tega sekali., kalau saini sih sudah tidak tega melihat.Daripada bersama Ibu tidak pernah cocok…
Ibu : kamu kalau bicara yang benar…
Saini : bagaimana bu?
Ibu : kalian sedang apa?coba cari obat barangkali penyakit ibu sembuh terus bapa kamu itu kemana sih ko tidak ada kabar sama sekali.
Saedah : iya bu…ga ada bapa sudah lama, sudah tujuh bulan
Ibu : mau tanya, tanya sama siapa
Saedah : yang penting ibu jangan melamun saja, saedah yang bertanggung jawab ngurusi.
Ibu : saedah, ibu merasa bangga punya nak sepertimu, sayang,berbakti kepada orang tua, makanya kalian saedah, saini jangan benci walaupun bapa kamu begitu yang penting pada berdoa ya nak….
Saedah : ya sudah saya juga mau cari obat, barangkali di desa sebelah daerah kerangkeng katanya ada dukun manjur
Ibu : ya udah nak, barangkali aja sembuh
Saedah : ya sudah bu, saya permisi, de saini titip ibu ya…
Ibu : ya nak, ati-ati ya. Saini jangan sedih ya yang penting kamu berdoa supaya bapa bisa selamat,berguna untuk sesame manusia, bisa bersama kita lagi.
Saini : Ya sudah bu, saya jalani saja berapa pun lamanya bapa tidak ada kabar beritanya.yang lain enak. Kumpul bisa tidur ysng lsin enak makan saeni tidak enak makan tidak ada yang di pikirkan .kalau memikirkan bapak tidak datang-datang .ya sudah sekarang yang sabar saja ya neng nanti juga datang ,sudah kamu tenang saja sambil menunggu bapak dan ibu bersama lagi..peribahasanya neng saeni.walaupun sekarang ibu tak pernah berhenti berdoa.walaupun tengah malam,orang lain sih pada tidur ibu tidak pernah memikirkan.takutnya bapak mu barang kali terjadi sesuatu di jalan.
(Hari sudah malam, sampai-sampai jalan – jalan pergi di pinggir lautpun dilakukan menuju desa krangkeng. Setelah bertemu di desa krangkeng sepanjng pejalanan pulang jadi pikiran, hati sedih tidak kepalang, satu – satunya orang tua perempuan, Ibu lemah akan sembuh atau tidak? Duhai tukang seruling mengapa engkau melamun saja?saya habis berangkat dari rumah inginnya sih, habis daerah krangkeng maksudnya ikhtiar untuk menyembuhkan Ibu, cari obat tapi begini. Kata bapa dukun, kalau airnya asin hasilnya pasti sembuh, tapi kalau airnya tawar akan menjadi racun untuk Ibu kemungkinan.Padahal airnya tawar jadi saya harus bagaimana.Hari sudah malam, rupanya orang sudah tidur seperti Ibu dan de saini.
Saedah ; Bu….Ibu……….
Ibu : masuk nak, tidak dikunci!
Saedah : maafkan saya bu,
Ibu : bagaimana hasilnya nak ?
Saedah : alhamdulillah….berkat doa ibu hasil atau tidak hasil saya sudah bertemu dengan dukun. Kabar buruknya saya diberi nasehat dan kata dukun itu, kalau air ini diminum oleh Ibu rasanya asin Ibu akan sembuh seperti sedia kala, tapi sebaliknya kalau rasanya tawar sepertinya Ibu akan meninggalkan saya.
Ibu : ya sudah, jangan nangis kalau kata dukunnya begitu. Jadi ibu diminta minum? Kalau masalah mati itu adalah urusan Tuhan, jadi kamu saedah jangan kecil hati ya nak ya….
Saedah : ya sudah…airnya diminum ya bu….
Ibu : ya nanti airnya diminum…….nak saedah ko rasanya tawar sekali!!!
Saedah : Ya Allah bagaimana ini bu..???
Ibu ; anaku…ibu mau ttip pesan untuk saini barangkali ibu meninggal dunia, kamu harus bisa menjaga adikmu, harus sayang ..jangan sampai hidupnya disia-siakan..Anaku, ibu badannya sudah ga enak, kaki sudah sakit, mata sudah berkunang-kunang
Saedah : Bu….istigfar bu….
Ibu : saini….
Saini : saya bu….semoga ibu cepat sembuh!
Ibu : saedah, jaga adikmu ya teru ibu pesan barangkali ibu mendadak meninggal dan bapa tdak tau, titip saini saja jangan din sia-siakan ya.. ya sudah, sepertinya ibu sudaj tidak kuat lagi…
Saedah : ya ampun ibu…ibu…
Saini : bu…ibu kak…
Saedah : jangan ditangisi de…aduh ade saini harus sabar melawan takdir sudah pasti setipa orang akan meninggal. Jangan dibuat sedih, lebih baik kita berdoa.
Saini : bu…ibu..saini ingin sama ibu..mending saini mati saja
Saedah : jangan de, kaka nanti sama siapa? Sabar de..sabar…udah de, beres- beres nanti kita undang tetangga. Jangan lupa lebe dikasih tau
Saeni :ko…ibu tega meninggalkan kita,nanti saeni sama siapa?
Saedah :sudah de jangan di pikirkan…ayo kita rapihkan saja sebab orang yang sudah menjnggal harus di urus.
Sarkawi :nikah sama maimunah senang sekali pagi-pagi minum susu,kalau sore teh tubruk;kalau siang itu rujak lontong…aduh ke inget terus sama rujak lontong,sepertinya senang banget lain sama ibunya anak-anak yang dulu.di Jakarta hidup rasanya enak sekali.
Maimunah :mas kamu ko..seperti anak-anak saja.istri sudah pergi ke pasar sampe pada cape.
Sarkawi :dari pagi sudah merokok,perasaan itu dituangkan lagi dituangkan lagi.
Maimunah : ya..dikasih gula mas,kalau tidak dikasih gula ya tidak manis manis.
Sarkawi :ya…..gulanya tidak ada bu.
Maimunah : ya…cari di toples.
Sarkawi : ya…berarti bukan salah ibu,yang salah saya tidak tanya dan tidak mencari.ini sih..merokok enak sekali.
Maimunah : makanya mas, mas itu senang ya..punya istri saya.
Sarkawi : ya jelas senang…lah..
Maemunah : saya tuh kurang megabdi bagaimana sama mas tuh...waktu pagi sudah dibuatkan kopi, sementara mas masih tidur kopi sudah tersedia. Mau mandi dimasakan air panas. Kurang apa lagi saya sama mas tuh? Makanya mas menikah dengan saya juga ga menyesal kan ?
Sarkawi : makanya ibu terima kasih.
Maemunah : saya mau bicara sama mas.
Sarkawi : silakan ibu mau ngomong apa ?
Maimunah : saya ingin tau daerah asalnya mas.
Sarkawi :oh….begitu..! jadi begini, jangan disamakan dengan betawi.di sini itu ramai,beda dengan di sana. Di sana kalau malam sepi yang ada suara ombak di laut. Jika di kiranya ibu betah ayo.. kita kesana tapi kalau tidak ya sudah..gimana jadi ngga…?
Maimunah : saya..ikut saja..!
Sarkawi : kalau ikut ya… syukur.itu namanya istri setia.ayo.. jangan ke lamaan pakaianya di bawa..!
Maimunah :ya sudah saya beres-beres dulu,sekalian menyiapkan bekal buat di perjalanan.
Sarkawi : ayo berangkat bu..!
Saedah : saeni,sesudah berdoa di kuburan ibu ayo pulang..!
Saeni : ka saedah ingin pulang?
Saedah :iya …kita di sini sudah lama
Saeni : pulang ke rumnah rumah ada siapa..? bapa tidak ada,ibu tidak ada. saeni di sini saja, di kuburan ibu.
Saedah : jangan di kuburuan banyak nyamuk dan hari sudah malam.
Saeni : tapi saeni inget ibu terus.
Saedah : kamu harus sabar saeni. ayo pulang.
Saeni : iya..tapi saeni di gendong ya….
Saedah : OK…!
Saeni : ka saedah, saya langsung mandi terus makan ya..udah lapar nih..
Saedah : iya mandi terus makan sama-sama,soal ibu jangan terlalu di pikirkan.barang kali sudah menjadi takdir kita di tinggal ibu
Sarkawi : maimunah ini dia rumah saya.
Maimunah :oh..ini bagus.
Sarkawi : ya syukur kalau betah, oh ya saya lupa belum beri tahu.nanti barang kali ada dua anak,itu anak tetangga.
Maimunah : oh..ada anak-anak.
Sarkawi : ada,anaknya om kusman.
Maimunah : ya dari pada rumahnya kosong, berarti rumah ada yang nunggu.
Sarkawi : sepertinya anaknya sedang tidur
Maimunah : sudah biar jangan di ganggu..
Sarkawi : bu …saya ingin bicara lagi sama ibu. Ee….saya ingin berangkat usaha.
Maimunah : bapa mau usaha ? usaha apa ?
Sarkawi : itu sama om kusman, mencari ikan di laut.
Maimunah : berarti bapa mau pergi ? nanti-nanti nanti dulu, saya masih bingung sama anak dua itu.
Sarkawi : oh sama anak dua itu..! begini bu, tapi ibu jangaan marah ya..
Maimunah : ya tidak, saya sayang sama kamu.
Sarkawi : bu..sebenarnya anak dua itu anak saya sendiri..
Maimunah : hah..kenepa tidak dari tadi bapa kasih tau saya ?
Sarkawi : saya malu bu..
maimunah : malu kenapa ..? kalau jadi laki-laki tidak boleh begitu. Saya sayng sama mas,berarti saya juga sayang sama anaknya mas..
sarkawi : ya..syukur kalau ibu sayang. Saya malu sam ibu..soalnya saya mengaku belum punya istri dan anak.
Maimunah : jadi itu anaknya mas sendiri..? siapa namanya ?
Sarkawi : saedah yang laki-laki ,saeni yang wanita. Kembar bu..
Maimunah : berarti saya punya anak kembar. Ya sudah jangan khawatir, saya bisa ngurus anak.
Sarkawi : ya sudah bu , saya mau berangkat usaha.tolong jaga anak-anak jangan di sia siakan
Maimunah : mas tidak percaya sama saya ? jangan khawatir mas, yang penting seksrang mas sarkawi usaha yang benar.
Sarkawi : percaya..! ya sudah saya berangkat. Dah….
Maimunah : dah..jangan lama lama ya mas …!
Sarkawi : iya paling sehari dua hari.
Saedah : saeni ,di depan rumah seperti ada suara orang. Suara laki-laki dan suara perempuan. tapi kalau tidak salah itu suara bapa sarkawi. Coba kamu ke depan benar atau tidak kalau benar tanya, bapa dari mana saja,kok tega sekali menghilang begitu saja sapai-sampai ibu meninggal dunia.laki-laki tidak ada belas kasihanya dengan keluarga.
Maimunah : mas….mas..kamu belum pamitan sama anak ya..
Sarkawi : e..iya salah ya…
Maimunah : ya salah..
Sarkawi : ya sudah saya panggil anak-anak dulu. Saedah….saeni….
Saeni : bapa……..bapa sehat pa ?
Sarkawi : sehat nak..
Saeni : saeni juga sehat .
Sarkawi : syukur..nak sekolah ngga?
Saeni : sekolah pa.
Sarkawi : nak bapa mau tanya,tapi jawabnya jangan keras keras, karena bapa bawa teman perempuan.ibu kemana ?
Saeni : bapa tanya ibu ?
Sarkawi : iya..ibu terbayang terus di pikiran bapa.
Saeni : ibu sudah menunggal dunia.
Sarkawi : INALILLAHI WAINALILAHI ROZIUN
Saeni : saeni juga sama kak saedah menangis terus
Sarkawi : sebelumnya juga bapa ingin bicara sama kamu. Memang cita-cita bapa dulu ingin naik haji, tiba-tiba di perjalanan bapa kebingungan tidak tau arah barat dan timur.
Saeni : bapa kebingungan……?
Sarkawi : iya…. Ceritanya bapa sudah sampai Jakarta, bapa mencari pelabuhan, sebelum pelabuhan bapa mendengar suara musik yang menyanyikan suaranya merdu
Saeni : bapa mendengar suara musik….?
Sarkawi : iya.. terus bapa tertarik dengan orang yang sedang menari dan bernyanyi.
Saeni : oh… bapa ingin bercerita tentang itu, berarti imannya lemah ya.kenapa sih pa..? bapa kan mempunyai tujuan yang bagus, tapi menggapa bisa tergoda . pantas saja bapa tidak pulang-pulang sampai-sampai ibu meningal dunia
Sarkawi : ya sudah nak, tidak perlu di sesali, tidak perlu tangisi, mungkin sudah sudah takdirnya . selanjutnya begini, sesudahnya bapa bertemu dengan wanita yang bernama maimuah, ya maklum nama juga lelaki dan perempuan sampai-sampai bapa dan maimuah sudah menjadi keluarga
Saeni : berarti bapa sudah menikah lagi
Sarkawi : sudah nak
Saeni : kalo begitu berarti bapa mengharapkan ibu meninggal, tidak mungkin bapa mengharapkan ibu meninggal buktinya sebelum ibu meninggal bapa sudah menikah lagi . ko bapa tega…? Apa salah ibu pa…?
Sarkawi : ya sudah anak manis, bapa mengaku salah sebab orang hidup ada peribahasanya selalu benar bukan malaikat selalu salah bukan jin iblis . barang kali bapa punya kesalahan bapa minta maaf sama nak saeni bapa tidak sengaja dan tidak di ajak mungkin juga sudah menjadi takdir kamu mempunyai ibu tiri begitu nak ceritanya
Maimunah : mas sarkawi…!
Sarkawi : yah….
Maimunah : oh ini anaknya mas,saeni dan saedah..kenalkan saya ibu kamu yang baru.angap saja seperti ibu kandung jangan anggap ibu tiri.ibu akan sayang sama kamu.
saedah : kenalkan nama saya saedah,dan ini saeni.
Sarkawi : nah kalian sudah saling mengenal. Bapa gembira sekali. Jika di bandingkan dengan besarnya gunung masih besar rasa gembiranya bapa.
Saeni : pa nanti sayang ngga sama saeni ?
Sarkawi : sayang…ya sudah jika sudah saling mengenal sekarang bapa ingin berangkat usaha dulu.saedah, saeni. diam di rumah yang nurut sama ibu tiri kamu. Bu…anak-anak sudah saya kasih tau, jadi sekarang ibu yang mendidik dia.
Maimunah : iya…..mas…!
Sarkawi : saya berangkat yah…teman-teman sudah menunggu di depan.dah….
Saeni : kau pulang bawa oleh-oleh ya pa.
Sarkawi : iya nak…!
Maimunah : bapa sudah berankat.kalian diam di rumah ..! oh ya ibu mau bicara, sekarang ibu mau berangkat ke pasar mau beli ikan. ini ada uang dan beras tetapi jangan di pakai sebelum ibu pulang. Dengar tidak…! Awas..jangan berani-berani pakai..! ya sudah ibu berangkat.
saedah : saeni kamu dengar apa yang di katakana ibu..?
Saeni : dengar.. ka. Ibu tiri beda sekali dengan ibu kandung.
Saedah : makanya saeni harus prihatin.
Saeni : ibu pergi ke pasar kita tidak di tinggalkan apa-apa.ga enak sekali ya sama ibu tiri. Aduh badan saeni lemes saeni belum makan.berasny dimasak saja ya ka..
Saedah : kamu ingat tidak apa kata ibu…?
Saeni : tapi badan saeni lemas,masa iya ibu akan marah sama kita.saeni yang bertanggung jawab jika ibu marah.
saedah : kalau kamu yang bertanggung jawab, ka saedah menurut saja. Ya sudah berasnya dimasak saja. Nanti kalau ibu marah kita tanggung jawab bersama ya…
Saeni : ka..kenapa ibu kita tega meninggalkan kita ya.kalau ibu kandung kita masih hidup kita tidak akan sengsara.
saedah : ALHAMDULILLAH….kita sudah makan.
Maimunah : aduh…..ada apa ini berantakan sekali…
saedah : bu…saya minta maaf bu….
Maimunah : maaf apa….?
saedah : tapi ibu jangan marah ya…
Maimunah : iya…sekarang terang-terangan saja sama ibu kamu mau ngomng apa?
saedah : begini bu.aedah tak tega melihat saeni lemas,saeni lemas karena belum makan.jadi berasnya saya masak.ampun bu..saya minta maaf.
Maimunah :KURANGAJAR …kamu anak kurangajar
Saedah : ampun bu…ampun.
Saeni : bu …sudah bu….! Saeni tang salah.
Saedah : saeni,kita pergi saja dari rumah. Ibu tiri memang tidak sebaik ibu kandung.
Maimunah : nanti…. Nanti…. nanti dulu, ya sudah.ibu tidak marah lagi.
Saedah : alhamdulillah ibu sudah tidak marah….
Maimunah : sekarang sih jangan pada sedih, siap-siap aja..kita jalan=-jalan yuk!
Saedah : jalan-jalan kemana bu?
Maimunah : kemana sajalah terserah ibu…
Saedah : ke cirebon atau ke gunung jati ?
Maimunah : iya..iya ke kota tapi ibu mandi dulu, mau masak ayam tumpeng buat bekal. Ya udah nak..jangan pada sedih..ya udah ibu minta maaf barangkali ibu punya salah, soalnya ibu capek sekali…
Saedah : saini..tadi ibu ngajak jalan – jalan
Saeni : kemana ?
Saedah : makanya de saini dandan pakai baju yang bagus, peke bedak pake minyak wangi, kaka saedah juga mau dandan.seneng ya de diajak jalan-jalan ibu ke kota!
Saeni : kak, saini mau jalan-jalan ? saini badannya lemes kak..
Saedah : nanti beli obat…
Saeni : saini digendong ya kak…
Saedah : ya nanti digendong ..
Maimunah : nak..sudah siap semua nih, ayam bekakak sudah, nasi tumpeng juga sudah, kita tinggal berangkat saja, tapi jangan lupa pintu di kunci semua! Saini jangan lupa rambutnya disisir yang rapi…
Saeni : iya bu..
Saedah : bu, kan hari sudah sore
Maimunah : sudah.. tidak apa-apa…
Saedah : nanti gelap- gelapan di jalan bu…
Maimunah : di kota sih terang…banyak lampu, ada yang merah, kuning, ijo, putih..jangan khawatir kalau sama ibu tidak akan sengsara..
Saedah : saya pergi sama ibu tiri ada senangnya dan tidak. Senangnya diajak jalan-jalan dan tidak senangnya jalannya masuk ke hutan-hutan.
Saeni : kak…jalan ke kota kok kesini?
Saedah : kata ibu lewat sini de…
Saeni : masa sih ke hutan ?
Maimunah : saedah…saini…lewat sini tuh motong jalan agar tidak kemaleman sampai di kota. Nanti kalo sudah sampai di kota pasti terang. Ya sudah, kalau sudah pada capek istirahat dulu…
Saedah : tuh…di pohon besar saja !
Maimunah : ya..istirahat saja, makan dulu!
Saeni : kak…saini haus, ingin minum
Saedah : nanti, tanya ibu dulu…ibu bawa air tidak?
Maimunah : gak bawa…ibu lupa! Sudah disini saja dulu ya, ibu mau cari air…nih dengarkan..sebelum Ibu datang janga kemana-mana pokoknya jangan pergi!!
Saedah : tapi ibu jangan lama-lama ya..saedah dan saini takut..kan kita di hutan bu!
Maimunah : makanya, saedah jaga saini…ibu yang cari air!
( beberapa menit kemudian )
Saedah : aduh..saeni, ibu cari airnya kok lama sekali
Saeni : kak saedah, kayaknya ibu membohongi kita
Saedah : iya de..disisni sepi..
Saeni : kak saedah, kayaknya ibu membuang kita. Buktinya sudah berjam-jam ibu tak datang jua…itu suara apa kak?saini takut…
Saedah : suara binatang
Saeni : pulang aja yu kak…
Saedah : gak tau jalannya de…cuacanya mendung lagi…sabar ya…
Saeni : kak saedah..ibu kok tega sih! Biarpun saya mati menyerupai apa saja…saini pasrah, hidup juga percuma! Bapa tega..ibu sudah meninggal. Saini mau mati saja !
( ada seorang kakek- kakek menghampiri )
Saeni : pak kiayi tolong…
Kiyai : kamunya kenapa sih?
Saeni : aduh kek…
Kiyai : de saini dan seadah..kakek mau ngomong?sebenernya kakek sudah paham.kamu dari desa karang turi indramayu kan Ibu kamu sudah meninggal ?
Saeni : kok kakek tau ..
Kiyai : tau sih nggak, Cuma ikuti kata hati saja…ibu kamu meninggal karena bapa kamu ingin pergi naik haji. Bener tidak? Tiba-tiba dijalan bapa kamu tergoda dengan ronggeng yang bernama maemunah…
Saeni : betul kek…saya kesini dengan ibu tiri, yaitu maemunah !
Kiyai : ngomongnya mau diajak jalan-jalan ya, tapi sebenarnya kamu itu dibuang…tapi kakek minta penjelasan kamu…kenapa sampai kamu dibuang ?
Saeni : pertamanya sih saya pakai beras dan uang, sebelum berangkat ke pasar ibu pesan jangan berani pakai uang dan beras itu…tapi saya terpaksa karena perut saya lapar… saya ingin menggantinya.
Kiyai : ooh…gitu! Ya sudah, kalau kamu benar-benar begitu kakek juga sudah menduga. Kamu mau jadi ronggeng ?
Saeni : ya mau dong kek !!
Kiyai : nanti kakak kamu kakek jadikan tukang kendangnya.
Saeni : iya kek…
Kiyai : nanti kamu dinamakan sifatnya ronggeng ketuk tiga. Nih busana dan minyak wangi dari kakek..nih, sabuk buat kakak kamu! Jadi kakak kamu yang gendang, kamu yang jadi ronggeng !
Saeni : iya kek..
Kiyai : kalau kamu jadi ronggeng, apa kamu siap dengan perjanjiannya?
Saeni : sanggup…yang penting saini bisa bayar utang ke ibu tiri kek…
Kiyai : wah..kalau itu bisa lebih dari sekedar bayar utang.. kamu bakal jadi orang kaya harta benda.Jadi dari sini,arahnya barat, timur , selatan…
Saeni : ooh..gitu…
Kiyai : sesudah itu kamu lurus nanti disitu ada bangunan mewah!bangunan itu dinamakan jembatan sewok.
Saeni : ooh, jembatan sewok
Kiyai : iya. Jembatan yang ada di daerah perbatasan indramayu dan subang.
Saeni : berarti nanti saya meronggeng disitu kek ?
Kiyai : iya….di pinggir kali sewok, sebab disitu akan mendapatkan uang banyak karena banyak pengusaha yang akan joget.
Kiyai :tapi begini nak…..sesudahnya kamu jadi ronggeng kakamu jadi tukang kendang,kakek akan mengadakan perjanjian kamu siap tidak….?
Saeni : siap kek,yang penting saya bisa bayar utang ke ubu tiri.
Kiyai :ya sudah jangan kelamaan kakek pergi dulu.
Saeni : lho….kakek kiyai menghilang..ya ALLAH saya mendapatkan petunjuk ka saedah…ka saedah…tahu tidak tadi ada kakek kiyai…?
Saedah : aduh… ngantuk nih…..
Saeni : kak bangun dong….tadi dengar tidak ?
Saedah : tidak de…perasaan ka saedah tadi tidur kamu di peluk sama ka saedah …eh tiba tiba kamu menghilang.
Saeni : ka… saya di datangi sama kakek-kakek, dia tau kalau saeni dan ka saedah sedang kesusahan,kata kakek kita di buang sama ibu tiri.
Saedah : di buang….! Berarti ibu kita jahat.
Saeni :kakek itu memberi kita petunjuk,dia ingin menolong kita, tapi ada syaratnya.
Saedah :syarat apa de…?
Saeni : saeni akan di jadikan ronggeng dan ka saedah jadi tukang kendangnya.
Saedah : oh… gitu…
Saeni : makanya sekarang harus nurut sama kakek itu.
Saedah : kalau begitu ayo kita berangkat, ke mana arahnya ?
Saeni : ayo…katnya arah barat-barat utara nanti di situ ada jembatan,yang namanya jembatan sewok, nah…di situ kita ngronggeng, kita akan kaya rayadan busa bayar utang.
(beberapa hari kemudian
Saedah :benar kata kamu de….sesudahnya jadi ronggeng kita kaya raya kita ngronggeng ga ada siang ga ada malam, de itu uangnya di bereskan.
Saeni : berarti kiyai itu benar.kerjaan saeni tidak sia-sia.aduh….saeni cape kak
Saedah : ya sudah istirahat,kakak juga cape.
Saeni : badanya lemas matanya berkunang kunang.
Saedah : sini kaka pijat.
Saeni : kakinya ka.
Saedah :kakinya kaku,badanya panas kamu kenapa de…? Mukanya pucat lagi, ka saedah jadi sedih.
Saeni : ka saya pesan,jika saya di tagih sama kakek, bayar utang ya ke ibu tiri kita
Saedah : iya asal kamu sehat dulu.
Saeni : ka…lihat warna air kali itu..! ada yang merah,kuning,hitam,putih.
Saedah : apa sih…ka saedah ga ngerti. Aduh…bau kembang.
Saeni : saeni mau mandi ka….
Saedah : jangan mandi de…
Saeni : saeni mau mandi…
Saedah : jadi kamu maksa ingin mandi ? ya sudah bajunya di lepas,awas ke peleset (beberapa saat kemudian) ko saeni ga muncul-muncul dari air..?
Kiyai : ko sepi..? sesudahnya hilang sifatnya sama tapi wujudnya beda.sepertinya buaya putih.
Saedah : saya ingin ikut saja,percuma saya hidup,.de kamu bisa bicara ? de sani..!jika kamu penjelmaan dari saeni kamu harus bicara…! Ya sudah selamat tinggal, ka saedah mau bayar utang ke ibu tiri.koper ini juga akan ku berikan
Sarkawi : bu…ibu dari mana ? sumai datang tidak ada siapa-siapa,
Maimunah : saya kesal menuggu kamu tidak datang-datang.
Sarkawi : namanya juga orang usaha. Sebenarnya ibu dari mana ? bicara sama bapa bu..
Maimunah : saya habis mutar-mutar mancari anak-anak, pergi tidak ijin ya terserah percaya apa tidak,
Sarkawi : maaf bu saya cape. Ya sudah kita cari anak-anak yu…
Maimunah : iya kasihan,walaupun saya ibu tirinya saya sayang mereka itu siapa…nanak yang sedang menuju ke sini..?
Saedah : bu…ibu..
Maimunah : sedah..kamu dari mana…?
Saedah : nanti bu ceritanya, bapa ada bu ?
Maimunah :ada baru saja datang
Saedah : waktu itu saya dan saeni sangsara di hutan, tapi saya tidak putus asa, dan sekarang saya sudah kaya.
Maimunah : maaf nak.
Sarkawi : sebaliknya bu saya minta maaf. Saya senang bisa berkumpul lagi dengan bapa dan ibu.tapi saya sedih karena saeni tidak ada. Kala itu kita sedang jadi ronggeng tiba-tiba
Maimunah : oh…saeni jadi ronggeng. Sekarang saeni kemana ?
Saedah : saeni sedang joget tiba-tiba badan saeni lemas dan wajahnya pucat.lalu saeni ingin mandi di kali sewok.setelah itu saeni berubah wujud menjadi buaya putih. Kita beri tahu bapa.
Maimunah :pa saedah datang. Ada kabar buruk saeni meninggal di kali sewok.mari kita ke sana.
(selah tiba di kali sewok)
Saedah : di sini bu. Ini baju dan koper katanya, saeni pernah pakai beras dan uang ibu. Ini di terima bu.
Maimunah : iya…sebenarnya tisak usah bayar hutang lagi. Ibu minta maaf ya nak ibu sedih karena ibu punya salah.
Saedah : bu itu bapa kenapa ? yaALLAH bapa ngjebur ke sungai.
Maimunah : pa….pa…..bapa tega sekali meninggalkan saya. dari pada saya sendiri saya ikut….
Saedah : jangan bu…..jangan.
Maimunah : lepaskn…..
Saedah : yaALLAH saya sendiri. Orang tua dan adik saya sudah tidak ada. Takdir tidak bisa di pungkiri, bapa terjun ke kali sewok dan berubah wujud menjadi bale kambang (bale mengambang),ibu jadi bambu.saeni jadi buaya putih,yaALLAH kalau begini hidup saedah sama sipa.badan saya sudah terasa lemas.
Sesudah itu saedah tidur di samping jembatan sewok. Takdir tidak bisa di pungkir,saedah terlindas kereta api.setelah itu saedah berubah mwujud menjadi bunga cempaka putih,sarkawi menjadi bale kambang.(bale yang mengambang) saeni menjadi buaya putih,maimunah menjadi bambu.
Silahkan download MP3 nya disini:
Kiser Saedah saeni I
Kiser Saedah Saeni II
Kiser Saedah dibawakan oleh Cicih Cangkurileung, iringan LS Karawang Group
Banyak yg request Kiser Saedah Saeni. Alhamdulillah akhinya nemu juga link'nya.... Mangga disedot...
BalasHapuslink saedah saeni ii nya koq ga da mas?
BalasHapus