Jumat, 02 November 2012
Tati Saleh
Raden Siti Hatijah (lebih dikenal dengan nama Tati Saleh; lahir di Jakarta, 24 Juli 1944 – meninggal di Bandung, 9 Februari 2006 pada umur 61 tahun) adalah seorang penari jaipongan asal Indonesia.
Ayahnya, Abdullah Saleh, adalah seorang seniman yang juga berprofesi sebagai Kepala Kebudayaan Ciamis, sedangkan ibunya adalah pengajar seni tari dan tembang. Selain ayahnya, Tati Saleh mempelajari seni tari dari R. Enoch Atmadibrata, Ono Lesmana, serta tokoh tari Sunda, R. Cece Somantri.
Di Konservatori Karawitan (Kokar), ia dan beberapa rekannya menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega Sutra. Pada tahun 1960-an, ia juga, bersama Indrawati Lukman, Irawati Durban, Tien Sapartinah dan Bulantrisna Jelantik, dikenal sebagai penari istana.
Album: Kecapi Sunda Citarum
Label:
*Biografi,
*Jaipongan,
*Kecapi suling,
Tati Saleh
Ida Widawati
Ida Widawati (lahir di Garut, Jawa Barat, 7 Januari 1956; umur 56 tahun) adalah penyanyi degung berkebangsaan Indonesia. Ia lahir dari keluarga seniman, sehingga bakat seninya tumbuh dan terasah baik. Sejak usia 5 tahun, ia belajar dengan Ibu Sumekar, salah satu kerabat ayahnya.
Ida lulus SMP tahun 1965, SMA pada tahun 1968 serta Fakultas Sastra Jurusan Antropologi Universitas Pajajaran, Bandung, berhenti di tingkat III).
Ida Widawati memulai karier bermusiknya pada tahun 1973 di kaset. Ia telah menelurkan 20 kaset. Ia terkenal sebagai penyanyi dan pimpinan ensembel Lingkung Seni Malati. Penampilan luar negeri pertamanya terjadi pada tahun 1974, atas undangan dari Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) di Amsterdam. Kemudian, Lingkung Seni Malati muncul juga di negara lain, seperti Perancis, Jerman, Belgia, Swiss, Norwegia, dan Swedia. Penerobosannya tiba pada tahun 1994, ketika CD pertunjukan livenya beredar di Perancis. Salah satu CD terkenalnya adalah Udan Mas dari tahun 1998.
Ida telah memenangkan sejumlah penghargaan:
- Juara I Pasanggiri Tembang Sunda SLTP se-Jawa Barat
- Juara I Pasanggiri Tembang Sunda Damas (1962)
- Juara II Pasanggiri Tembang Sunda Damas (1974)
- Juara I Tembang Sunda Saodah Cup (1974 dan 1976)
Tembang Sunda Cianjuran
Degung Parahyangan
Tembang Sunda Cianjuran Lingkung Seni Melati
Label:
*Biografi,
*Degung,
Ida Widawati
Kamis, 01 November 2012
Mang Koko
Koko Koswara, biasa dipanggil Mang Koko, (lahir di Indihiang, Tasikmalaya, 10 April 1917 – meninggal di Bandung, 4 Oktober 1985 pada umur 68 tahun) adalah seorang seniman Sunda. Ayahnya Ibrahim alias Sumarta, masih keturunan Sultan Banten (Sultan Hasanuddin). Ia mengikuti pendidikan sejak HIS (1932), MULO Pasundan (1935).
Bekerja sejak tahun 1937 berturut-turut di: Bale Pamulang Pasundan, Paguyuban Pasundan, De Javasche Bank; Surat Kabar Harian Cahaya, Harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Barat, guru yang kemudian menjadi Direktur Konservatori Karawitan Bandung (1961-1973); Dosen Luar Biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung), sampai ia wafat.
Ia juga tercatat telah mendirikan berbagai perkumpulan kesenian, diantaranya: Jenaka Sunda "Kaca Indihiang" (1946), "Taman Murangkalih" (1948), "Taman Cangkurileung" (1950), "Taman Setiaputra" (1950), "Kliningan Ganda Mekar" (1950), "Gamelan Mundinglaya" (1951), dan "Taman Bincarung" (1958).
Mang Koko juga mendirikan sekaligus menjadi pimpinan pertama dari "Yayasan Cangkurileung" pusat, yang cabang-cabangnya tersebar di lingkungan sekolah-sekolah seprovinsi Jawa Barat. Ia juga mendirikan dan menjadi pimpinan Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Bandung (1971). Pernah pula ia menerbitkan majalah kesenian "Swara Cangkurileung" (1970-1983).
Karya cipta kakawihan yang ia buat dikumpulkan dalam berbagai buku, baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih berupa naskah-naskah, diantaranya:
Saat membaca riwayat kehidupan Mang Koko, akan ditemui seorang manusia yang telah memasrahkan jiwa dan raganya demi kehidupan dan kelestarian seni, khususnya seni Sunda. Namun ia merasa sudah cukup bila ia disebut sebagai seorang penghalus jiwa, sebab seperti diungkapkan dalam salah satu kawihnya, seni adalah penghalus jiwa.
Kawih-Kawih Mang Koko:
Mang Koko – Anggrek Japati
Mang Koko – Bulan Langlayangan Peuting
Mang Koko – Hamdan
Mang Koko – Hareupeun Kaca
Mang Koko – Hariring Nu Kungsi Nyanding
Mang Koko – Kembang Impian
Mang Koko – Kembang Tanjung Panineungan
Mang Koko – Melati di Gunung Guntur
Mang Koko – Ngalamun
Mang Koko – Peuting Panghareupan
Mang Koko – Reumis Beureum
Mang Koko – Sagagang Kembang Eros
Mang Koko – Salempai Sutra
Mang Koko – Wengi Enjing Tepang Deui
Demi Wanci
Asmarandana
Pajajaran Catrik
Kawih 1
Kawih 2
Kawih 3
Kawih 4
Kawih 5
Kawih 6
Kawih 7
Bekerja sejak tahun 1937 berturut-turut di: Bale Pamulang Pasundan, Paguyuban Pasundan, De Javasche Bank; Surat Kabar Harian Cahaya, Harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Barat, guru yang kemudian menjadi Direktur Konservatori Karawitan Bandung (1961-1973); Dosen Luar Biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung), sampai ia wafat.
Bakat seni dan karya-karyanya
Bakat seni yang dimilikinya berasal dari ayahnya yang tercatat sebagai juru mamaos Ciawian dan Cianjuran. Kemudian ia belajar sendiri dari seniman-seniman ahli karawitan Sunda yang sudah ternama dan mendalami hasil karya bidang karawitan dari Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seorang ahli musik Sunda.Ia juga tercatat telah mendirikan berbagai perkumpulan kesenian, diantaranya: Jenaka Sunda "Kaca Indihiang" (1946), "Taman Murangkalih" (1948), "Taman Cangkurileung" (1950), "Taman Setiaputra" (1950), "Kliningan Ganda Mekar" (1950), "Gamelan Mundinglaya" (1951), dan "Taman Bincarung" (1958).
Mang Koko juga mendirikan sekaligus menjadi pimpinan pertama dari "Yayasan Cangkurileung" pusat, yang cabang-cabangnya tersebar di lingkungan sekolah-sekolah seprovinsi Jawa Barat. Ia juga mendirikan dan menjadi pimpinan Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Bandung (1971). Pernah pula ia menerbitkan majalah kesenian "Swara Cangkurileung" (1970-1983).
Karya cipta kakawihan yang ia buat dikumpulkan dalam berbagai buku, baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih berupa naskah-naskah, diantaranya:
- "Resep Mamaos" (Ganaco, 1948),
- "Cangkurileung" (3 jilid/MB, 1952),
- "Ganda Mekar" (Tarate, 1970),
- "Bincarung" (Tarate, 1970),
- "Pangajaran Kacapi" (Balebat, 1973),
- "Seni Swara Sunda/Pupuh 17" (Mitra Buana, 1984),
- "Sekar Mayang" (Mitra Buana, 1984),
- "Layeutan Swara" (YCP, 1984),
- "Bentang Sulintang/Lagu-lagu Perjuangan"; dan sebagainya.
- "Gondang Pangwangunan",
- "Bapa Satar",
- "Aduh Asih",
- "Samudra",
- "Gondang Samagaha",
- "Berekat Katitih Mahal",
- "Sekar Catur",
- "Sempal Guyon",
- "Saha?",
- "Ngatrok",
- "Kareta Api",
- "Istri Tampikan",
- "Si Kabayan",
- "Si Kabayan jeung Raja Jimbul",
- "Aki-Nini Balangantrang",
- "Pangeran Jayakarta",
- "Nyai Dasimah".
Penghargaan untuk Mang Koko
Mang Koko telah mendapat berbagai penghargaan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, lembaga atau organisasi masyarakat (LSM), seperti diantaranya Piagam Wijayakusumah (1971), sebagai penghargaan tertinggi dari pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam kategori "Pembaharu dalam Bidang Seni Karawitan".Saat membaca riwayat kehidupan Mang Koko, akan ditemui seorang manusia yang telah memasrahkan jiwa dan raganya demi kehidupan dan kelestarian seni, khususnya seni Sunda. Namun ia merasa sudah cukup bila ia disebut sebagai seorang penghalus jiwa, sebab seperti diungkapkan dalam salah satu kawihnya, seni adalah penghalus jiwa.
Kawih-Kawih Mang Koko:
Mang Koko – Anggrek Japati
Mang Koko – Bulan Langlayangan Peuting
Mang Koko – Hamdan
Mang Koko – Hareupeun Kaca
Mang Koko – Hariring Nu Kungsi Nyanding
Mang Koko – Kembang Impian
Mang Koko – Kembang Tanjung Panineungan
Mang Koko – Melati di Gunung Guntur
Mang Koko – Ngalamun
Mang Koko – Peuting Panghareupan
Mang Koko – Reumis Beureum
Mang Koko – Sagagang Kembang Eros
Mang Koko – Salempai Sutra
Mang Koko – Wengi Enjing Tepang Deui
Demi Wanci
Asmarandana
Pajajaran Catrik
Kawih 1
Kawih 2
Kawih 3
Kawih 4
Kawih 5
Kawih 6
Kawih 7
Wangi Indriya & Sanggar Mulya Bhakti
Setelah Rasinah, penari topeng panji yang terkenal, ia disebut-sebut sebagai penerus tari topeng panji. Terlahir di Indramayu pada tanggal 10 Agustus 1961. Menurut Wangi, nama panggilannya, antara topeng Cirebon dan topeng Indramayu sama-sama memiliki lima karakter. Bedanya, pada topeng Indramayu ada tarian ‘Kelana Udeng’, yaitu tarian terakhir dari lima karakter tari topeng. Pada ‘Kelana Udeng’ lebih banyak atraksi, seperti menari diatas tambang, kayang sambil mengambil koin. Wangi lahir dari keluarga seniman Indramayu. Kakeknya Wisad, seniman tradisi serba bisa, sementara ayahnya, Taham, adalah seorang dalang wayang kulit.
Wangi menggambarkan masa-masa dia berlatih tari ibarat berlatih dalam kamp militer, sebab sang kakek dan ayah memberlakukan disiplin besi. Sang kakek begitu ingin ada yang melanjutkan tari topeng, sehingga mengharuskan Wangi, kakak, dan dua adiknya yang semuanya perempuan, serta sepupu-sepupunya untuk belajar tari topeng.
Memulai belajar tari dari dasar seperti serimpi dari ayahnya pada kelas V SD, Wangi belajar tari topeng sejak kelas I SMP. Disiplin keras dijalani Wangi dan saudarinya. Wangi belajar tari topeng hingga naik kelas III SMA. Saat kelas II SMA itu dia sudah mulai menari atas undangan dan menerima bayaran.
Meski tidak belajar khusus pada Rasinah, Wangi mengaku sempat dua kali bertemu penari itu, dalam dua kali pertemuan itu dia sempat belajar gerakan tari dari Rasinah. Wangi dilatih untuk mampu mengerjakan sendiri berbagai hal sejak kecil. Kemandirian itu pula yang membuat Wangi tak pernah berniat mundur dari kegiatan berkesenian meskipun kini undangan menari berkurang. Sampai tahun 2004-an, ia masih dapat undangan menari sampai 10 kali dan mendalang 1-2 kali sebulan. Mulai 2005, rata-rata dua kali saja. Wangi tidak tahu apa sebabnya.
Bersama rombongan Ila Galigo, Wangi ikut berpentas di Singapura, Barcelona-Spanyol, Perancis, Italia, New York-Amerika Serikat, dan Melbourne-Australia. Wangi mengaku menjalani kehidupan berkeseniannya tanpa ngotot, semua dia jalani apa adanya. Kalau ada saingan dari seniman lain, ia nikmati saja.
Di Indramayu mungkin nama kakaknya yang pesinden lebih terkenal daripada dia, namun diluar Indramayu nama Wangi lebih dikenal orang. Sebelum ikut Ila Galigo, Wangi pernah pentas di Jepang (1994,) Perancis, Belgia, Swiss, dan Belanda (2001). Di dalam negeri dia diundang antara lain ke Solo Dance Festival (2001) serta Temu Koreografer Wanita, pentas di Teater utan Kayu dan Bengawan Solo Festival (2006).
Pertemuannya dengan berbagai kalangan membawa Wangi menciptakan tari kontemporer yang berangkat dari gerakan tari topeng. Setidaknya Wangi sudah menghasilkan lima tari baru, yang dia sebut mungkin agak aneh di mata akademisi. Ia tidak khawatir topeng Indramayu akan punah atau khawatir masyarakat tidak mau lagi tari topeng. Ia tetap optimistis. Ketika naik pentas, sambutan masyarakat sangat baik, mereka tetap suka.
Saat ini Wangi mengelola Sanggar Mulya Bhakti yang berdiri sejak 1983, bertempat di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. bagi yang mau contact person, bisa dihubungi di nomor (0234) 352031.
Rabu, 31 Oktober 2012
Upit Sarimanah
Suryamah yang dikenal sebagai Upit Sarimanah (lahir di Purwakarta, 16 April 1928-11 Februari 1992) adalah seorang pesinden Indonesia di era 50-an. Beliau dikenal dengan lagu "Mojang Priangan".
Beberapa lagu Upit Sarimanah yang lain yang populer antara lain Bajing Luncat, Sakadang Kuya jeung Monyet, Kukupu, dan Sedih Prihatin. Upit pernah memimpin “Gamelan Siliwangi”. Beberapa lagu yang direkam Perusahaan Piringan Hitam “Dimita Moulding Industries” antara lain Ekek Paeh Tablo (NN), Karyawan Elodan (Upit Sarimanah), Tauco Cianjur (Moch. Jasin), Nampi Ondangan, Gupay Pileuleuyan (Mang Koko), Mojang (Upit Sarimanah), Bangbung Ranggaek (Kosaman Djaja), Nyoreang ka Tukang, Bajing Luncat (Kosaman Djaja), Hariring nu Kungsi Nyanding (Mang Koko/S. Winarja), dan Mapay Laratan.
Upit Sarimanah di usia lanjutnya mengidap komplikasi ginjal, darah tinggi dan beberapa penyakit lainnya, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Al Afiah pada 11 Februari 1992.
Beberapa album Upit Sarimanah:
- Gending Sunda
- Parade Kota Kembang
- Gamelan Seni Sunda Siliwangi
- Gambang Krawang
- Sakadang Kuya/Kulu2 Deungkleung
- Mangle/Surung dayung
- Darmayon/Lembur Kuring
- Lembur Kuring
- Sorban Palid/ Pangeretan
- Hayam Ngupuk/Doblang
Link download diambil dari koleksi madrotter-treasure-hunt.blogspot.com
Label:
*Biografi,
*Degung,
*gamelan,
Upit Sarimanah
Nengsih & Sadi M - Jam Wolu
Tarling Teng Dung - Jam Wolu
Bhayangkara Buana Putra
Pimp : H.W.Ismail
Penyanyi : Nengsih, Sadi M.
1. jam Wolu
2. sampean Kawinan
3. Ingkar Janji
4. Seba keder
5. Ora Aneh
6. Apa Karepe
7. Rujuk
8. Ingut Ingutan
9. kegoda
10. Pergaulan
Thanks to : madrotter-treasure-hunt.blogspot.com
Label:
*Tarling Teng-Dung,
Nengsih,
Sadi M
Gending Dolanan - Kupu Kuwi (1972)
Gending Dolanan - Kupu Kuwi
Keluarga Karawitan Studio R.R.I Surakarta
01. Kupu Kuwi Pl.6 (Nji Sumarmi dkk.)
02. Bibis Pl.6 (Nji Sumarmi dkk.)
03. Djamuran Sl.9 (Nji Tukinem dkk.)
04. Lindri Sl.9 (Nji Suparni dkk.)
05. Djaratu Sl.mnjr. (Bersama)
06. Dempo Pl.br. (Nji Sumarmi dkk.)
07. Djago Kate Pl.br. (Bersama)
08. Tjempa Sl.9 (Nji Supami dkk.)
09. Djagoan Sl.9 (Nji Prendjak dkk.)
10. Tatanja Pl.br. (Nji Sumarmi dkk.)
Label:
*Gending,
*Karawitan
Langganan:
Postingan (Atom)











